puncak burangrang

27 juni 2010
pagi itu kami melanjutkan perjalanan menuju puncak.tanjakannya tidak lagi seperti tanjakan setan, tapi tetep bikin repot. apalagi salah seorang dari kami menenteng lampu badai saya menyebutnya, membuat langkah jadi lebih repot. tiba di suatu dataran, lampu itu disembunyikan di suatu tempat, biar tidak bikin repot.bersama kami juga ada tiga orang apunk yang tadi mencari anggrek. ada satu orang dari mereka, tepat berada di belakang saya. lalu dia mengambil bunga dari salah satu tumbuhan yang ada di sana. membukanya dan memakan biji yang ada di dalam bunga tersebut. saya tanya apa rasanya, asam jawab dia. lalu saya pun mencoba, bentuk bijinya kecil-kecil, seperti markisa, tapi lebih kecil dari biji markisa. rasanya asam, segar. pengalaman makan tumbuhan hutan.
kami sampai di puncak kedua, istirahat sebentar, mengumbpulkan kembali tenaga, kemudian kembali berjalan. perjalanannya terus turun, beberapa bagian jalan mulai menyempit karena terkikis longsor. kalau dilihat ke bawah, langsung ketemu jurang. view disini keren banget. paling keren menurut saya adalah, kita bisa melihat situ lembang yang dikelilingi oleh hutan.situ lembang satu tanjakan terakhir menuju puncak. tanjakan ini tersusun dari batu-batu. dan diatas ternyata sudah ada beberapa apunk [lagi] yang sudah siap dengan tali dan membantu kami naik. ya ampun.. mereka baik banget deh. jadi terharu.. satu per satu dari kami naik. belum sampai di puncaknya, tapi di dataran dekat puncak, hanya perlu berjalan beberapa menit lagi, baru benar-benar sampai puncak. di dataran ini apunk bikin tenda lagi, sembari menunggu rombongan lain yang masih berkemah juga ada di puncak. apunk akan menginap semalam lagi di puncak ini.
oia, rombongan yang ada di puncak ini, berangkatnya setelah kami, dan mereka terus melanjutkan perjalanan malam itu juga hingga puncak, dan berkemahlah mereka disana.
10 menit kemudian, kami benar-benar menginjak puncak burangrang. foto-foto disana. ada tugunya loh, tulisannya burangrang 2050 mdpl [kalau tidak salah]. di sisi lan tugu ini juga ada tulisan, tatang dan yaah.. saya lupa satu nama lagi, ternyata yah.. nama itu adalah nama dari dua orang anggota apunk tersebut. ckckck.. sekitar 30 menitan kami di puncak sana lalu turun lagi ke dataran. menyiapkan makan siang untuk tenaga turun, sambil ngobrol dengan para apunk. sekitar 12.30 kami sudah siap untuk turun kembali.

12.30
entah kenapa saya lebih suka menanjak. kalo turun itu lebih cape, mungkin karena sudah habis tenaga saat menanjak dan kaki harus cakram, ngerem-ngerem kalo gak mau jatuh. di jalan pulang ini, saat sedang istirahat dipuncak kedua, kami bertemu dengan 4 orang bapak-bapak yang menurut saya sudah tua, salah satu dari mereka malah ada yang berumur 68 tahun! masih kuat buat ndaki. hebat betulkan?!
beberapa kali berhenti sekedar memulihkan tenaga dan juga mengambil beberapa barang yang kami tinggalkan saat ke menuju puncak, seperti lampu badai dan juga sekantong sampah. [cuma semalam ngecamp sampahnya setengah trushbag]
ada yang bikin kaget saat pulang. ketika kami turun di “tanjakan setan” itu, beberapa apunk, tepatnya 3 orang apunk, lari-lari melewati kami. mereka kehabisan air, jadi mereka menuju pos jaga untuk mengambil air tambahan. lagi-lagi, bikin saya takjub. saya memilah dan memilih jalan biar gak kepleset eh mereka malah lari-lari dengan riangnya “-.-
akhirnya sampai juga dibawah. di antara pohon pinus kami melepas lelah. bimo mengambil gambar terakhir dari perjalanan ini. sekitar jam setengah empat kami menuju pos, bebersih dan solat. sementara bimo dan om mencari angkot untuk pulang.
sedikit berjalan menuju angkot. di dalam angkot masih sempat ngobrol-ngobrol. dan sayapun sedikit mendengar bapak supir bercerita kepada bimo, entah tentang apa,sudah gak fokus mendengarkannya juga. beberapa teman turun di geger kalong. tersisa saya, harji, bryan, deni dan bimo,bersama bapak supir juga tentunya. saya dan bimo turun di simpang dago, yang lain lanjut ke taman sari. bimo menuju dago dan saya ngangkot lagi menuju cicaheum, kemudian ngangkot lagi menuju cileunyi.
badan sudah cape. ingin segera sampai di rumah, tapi perjalanan saya masih jauh. sekitar satu jam. rasakantuksudah tak tertahan lagi,maka tertidurlah saya diangkot. tiba-tiba dibangunkan oleh supir bahwa saya sudah sampai ditujuan. hoooahh,,sedikit malu tapi ya sudahlah, toh gak kan ketemu lagi ama pak supirnya. hehe

sekian catatan perjalanan saya menuju puncak burangrang🙂

sedikit tambahan foto🙂

matahari sore

hanya dibatasi tali, di bawah langsung jurang🙂

10 thoughts on “puncak burangrang

  1. Dulu saya juga rutin hiking, tapi sejak kerja dan menikah jadi nggak ada waktu lagi. Ngeliat dan baca ceritanya jadi pengen naik gunung lagi nih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s