ujung genteng : nunggu sampai empet

dapat jatah minggu tenang selama dua minggu. waktunya dipakai untuk liburan. hahay. bukannya siap-siap untuk “bertempur” malah main-main. Gak apalah ya. refreshing dulu🙂
tiga hari yang lalu pergi bersama sahabat-sahabat ke suatu tempat. pantai di daerah sukabumi. salah satu target tempat yang memang diniatkan untuk dikunjungi. sampai disana pagi, pagi sekali jam tiga. Jadi beristirahat dulu sebelum melihat sunrise.
Di pantai ini juga ada tempat konservasi penyu. yup. akhirnya kami mengunjungi konservasi penyu itu. datang, ngobrol-ngobrol sama petugas disana. terus mendapat info bahwa jam5 sore ada pelepasan anak penyu. Untuk melihat penyunya alias induk penyu malam sekitar jam 21 sampai 3 pagi. Sambil menunggu jam malam itu, kami kembali lagi ke pantai dan menikmati si kakap merah bakar dulu. maknyus sekali walau rada kurang bumbu tuh ikannya. heu.. sayang unyun, sahabat saya yang gak suka ikan gak makan. padahal mantep banget tuh ikan. haahaa😀
beres makan, ngobrol-ngobrol dulu sambil memandang laut (padahal gelap sih, heu). lalu pergi menuju tempat koservasi penyu. Semangat untuk melihat penyu, seberapa besarkah tu penyu. rasanya kami yang pertama datang kesana, ada juga beberapa motor. tak lama mulai berdatangan juga beberapa buah mobil. Salah satu dari kami bertanya pada petugas kapan penyu naik. tidak bisa dipastikan, tapi kalau penyunya sudah datang pasti diberitau, begitu katanya. Oke, kami menunggu. Kalau tidak salah kami datang sekitar jam 21an gitu. Sejam menunggu, ngobrol, duduk-duduk. Lalu kantuk menyerang, ambil posisi di salah satu kursi yang ada terus tidurlah disana. terbangun karena gerah dan nyamuk-nyamuk mengganggu. dua jam terlewati, mulai resah, gundah, gulana. udah gak betah. ngobrol sudah gak ada yang mau diobrolin. salah satu sahabat berkata “cerita atuh bang. biasanya kamu banyak cerita”. aahh.. sudah terlalu cape sampe males ngomong dan bercerita.
mobil-mobil lain tampaknya mulai putus asa, ada yang pulang karena sudah bosan menunggu. Kami? Masih bersabar menunggu, menjatahkan diri untuk menunggu hingga jam 00.00. Lewat dari jam 00.00, karena masih ada yang tidur jadi lupa dengan “jatah menunggu”. jam 00.20, ada koar-koar dari petugasnya bahwa penyu sudah naik. senang rasanya, akan mengakhiri penantian. Tapi tak sebentar menunggu panggilan kembali bahwa sudah diperbolehkan untuk melihat penyu. Kami masih harus menunggu. UUUhhhh… ‘-_-
selama penantian ini (halah :D), harus mendengar sahabat yang merengek-rengek, rarungsing kata orang sunda mah. ribut sendiri kaena hidungnya mampet, kegerahan, dan ngantuk pula. waduh.. seperti keponakan saya saja yang berusia 7 tahun, ribut kalo hidungnya mampet. haahaay… jadi pusing sendiri.
sejam kemudian dari 00.20, petugas memperkenankan untuk melihat penyu. rame-ramelah bersama pengunjung lain menuju arah pantai. aahh.. Mana penyu yang membuat kami menunggu hampir gila sampe empet sendiri, seperti apa rupanya. Saya berharap itu adalah penyu belimbing. sampai disana, si penyu sedang menggerakkan tangannya mengais pasir, ingin berjalan maju sepertinya tapi karena banyak orang, kaget tuh penyu. mana banyk blitz kamera pula. padahal kata petugasnya diusahakan tidak menggunakan blitz, kasian ke penyunya. Yaah,, gak digubris deh. blitz tetap berkilauan. saya saja sampe silau karena blitz-blitz itu. Mungkin kalo gak pake blitz gak keliatan penyunya kali yah, kan gelap.
si penyu besar, tapi masih besar sahabat saya (haahaa :D). kata petugasnya, umur penyu ini kurang lebih 90an tahun. beratnya 120 kg. besar emang penyunya.
yah itulah si penyu yang ditunggu-tunggu. selain penyu ada lagi yang bikin takjub. Bisa melihat taburan bintang di langit. keren banget. berasa dekat. menikmati bintang di pantai. bersama penyu. haahaaa😀 setengah jam lebih mungkin melihat penyu dikerubutin manusia-manusia yang ingin memegangnya, foto bersamanya. Pengen melihat penyunya bertelur, tapi ternyata sulit, karena penyunya masuk ke belakang pandan-pandan berduri, semak-semak begitulah. sampai orang-orang pada pergi, kami masih disana, melihat penyu yang mulai sibuk lagi mengais-ngais pasir. setelah petugasnya pergi, kami pun ikut pergi. dan tinggal kami saja yang belum pulang, mobil dan motor yang lain sudah pada pergi. terimakasih penyu. membuat kami bersabar menunggumu. uuhh >.<

2 thoughts on “ujung genteng : nunggu sampai empet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s