SPG

Di dalam angkot ada beberapa penumpang, termasuk aku. Kemudian naik tiga orang perempuan lagi. Perjalanan panjang bersama angkot dimulai, biasanya aku pulang naik bis karena sudah menjelang malam, bis-bis itu sudah tidak ada lagi.
Memperhatikan penumpang lain, mungkin penumpang lain juga memperhatikan aku. Saling memperhatikanlah sesama penumpang. Aku, seorang diri saja, tidak ada teman mengobrol, jadinya aku mendengarkan obrolan tiga perempuan yang tadi naik. Sebenarnya tidak bermaksud mendengarkan, tapi karena salah satu dari mereke bercerita dengan serunya, terdengar olehku, penumpang lain juga mungkin, dan tanpa ku sadari, aku pun menyimak ceritanya.
Entah apa awal dari obrolan mereka, yang mulai aku simak adalah ketika mereka membicarakan tentang pekerjaan. Mereka mahasiswa juga, dan sepertinya satu universitas juga denganku. Salah satu universitas negeri di kota Bandung, sebut saja Unpad (emang Unpad sih). Tentang SPG atau sales promotion girl, betul yah? Yah itu ceritanya. Sudah tidak asing lagi kan dengan SPG? Sering sekali kita temui, di mall, pameran atau bazaar. Satu dari tiga perempuan ini pernah bekerja sebagai SPG, anggap saja namanya Sisi, beberapa kali atau bahkan dia sering bekerja seperti ini karena tergabung dalam satu agency, itu yang aku tangkap dari obrolannya. Menambah pengetahuanku tentang SPG.
Point pertama, kata dia, lebih enak gabung dalam satu agency, disini akan selalu ada training-training, sehingga menambah skill, dan mempermudah dalam urusan pekerjaan karena biasanya sudah ada kerja sama dengan banyak perusahaan. Kedua, adalah pengalaman kerja dari Sisi tersebut, tahun lalu dia menjadi SPG salah satu perusahaan rokok di suatu acara sejenis pameran mungkin, gajinya besar, makan siang dikasih, pokoknya serba enak, tapi ada yang tidak enaknya juga. Kadang ada yang menganggap bahwa cewek-cewek SPG ini bisa “diajak”, itu yang bikin risih kata Sisi. Ketika ditanya oleh temannya bagaimana cara Sisi menghadapi orang-orang itu, Sisi bilang, dia masih menjawab dengan sopan tapi kalau orangnya masih juga begitu, dia tinggal panggil bagian keamanannya. Tahun ini, Sisi kembali bekerja, bukan sebagai SPG, ada namanya tapi saya lupa, kalau tidak salah sejenis pramuniaga. Bukan pramuniaga tetap, musiman juga seperti SPG, ada karena acara tertentu. Pekerjaannya lebih berat dari SPG, tapi gajinya lebih kecil, makan siang juga beli sendiri Sebelumnya juga Sisi ditawari untuk jadi SPG perusahaan rokok yang sama seperti tahun lalu tapi tidak diambil karena, kata dia, pakaiannya lebih pendek dari yang pernah dia pakai dulu dan sangat tidak nyaman, walaupun gajinya lebih besar dari tahun kemarin. Saat Sisi melihat SPG dari perusahaan rokok tersebut, dia pun melihat tatapan orang-orang terhadap SPG itu, terutama ibu-ibu. Tatapan yang tidak enak. Dan saat dia bercerita pada dua orang temannya, Sisi mengatakan, “ya ampun, dulu waktu aku jadi SPG perusahaan itu, seperti itu juga ya orang-orang ngeliat aku. Duh gak enaknya”. Maka dari itu, ketika mendapat tawaran pekerjaan di perusahaan lain, Sisi lebih memilihnya, “biar gajinya kecil tapi aku kerjanya nyaman dan terhormat” begitu kata sisi.
Pengalaman lain yang dia ceritakan adalah ketika dia jadi SPG suatu produk detergen. Dia dan teman-temannya, dalam satu kelompok (begitu kalau tidak salah), ditargetkan untuk bisa menjual 2700 bungkus detergen selama 3 hari. Jadi rata-rata, satu harinya mereka harus menjual kurang lebih 900 bungkus detergen. Dari 10 orang yang dia tawari kadang hanya satu-dua orang yang membeli. Kebayangkan berapa banyak orang yang dia tawari sampai bisa terjual 900 bungkus dalam sehari itu. Modal gak malu dan pinter ngomong, begitu kata Sisi. Untuk memberi selebaran saja, kadang susah banget, apalagi kalau ditolak, bikin sedih katanya. Jadi, kata Sisi, belajar dari pengalaman dia sendiri, kalau dia ketemu SPG atau yang suka memberikan selebaran-selebaran produk diambil saja, terus setelah itu mau dibuang juga terserah, yang penting diambil dulu.
Begitu teman ceritanya. Jadi ketularan dengan Sisi, kalau ada yang memberi selebaran produk ya diterima saja, tinggal menerima gak susah kan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s