keluarga baru

Dari 21 orang yang ber-KKN di desa Jayapura, kemudian dibagi dua untuk penempatan rumahnya. Ada yang ber-10 dan satu lagi ber-11. ruri kebagian rumah yang ber-11, 8 orang perempuan dan 3 orang laki-laki. Ruri dan teman-teman masuk dalam nama ”Rumah Satu” , yang lainnya masuk dalam nama ”Rumah Dua”. Di rumah dua ini ada citra, dewi, Monik, fara, syida, fitri, Putra, Ucha, Roni, dan Dion. Rumah yang ditempati cukup besar, satu kamar yang luas untuk para perempuan dan satu kamar yang kecil untuk para lelaki. Sayangnya, ruri dan teman-teman hanya dapat bertahan di rumah ini sampai 5 hari saja, karena persediaan air yang mulai menipis maka dianjurkan untuk beberapa orang pindah ke rumah lain atau menempati rumah yang tidak ditempati oleh yang punya. Berdasarkan hasil musyawarah, akhirnya pindahlah ke rumah kosong itu, karena sudah merasa nyaman bareng-bareng dan ga mau dipisahkan. Walaupun untuk pertama kali mendengar kata ”rumah kosong” masing-masing orang sudah berimajinasi yang lain dan aneh-aneh. Padahal, rumah itu baru sebulan tidak ditempati. Ceritanya, ada ibu-bapak yang membuat rumah untuk anaknya beserta keluarga, tapi karena menantu tidak betah maka rumah tersebut tidak ditempati. Tidak seseram yang dibayangkan. Rumahnya berbentuk rumah panggung. Yang terbayang oleh ruri adalah rumah panggung di Sumatra, ada tangga untuk masuk ke pintu utama, lantai dan dindingnya terbuat dari papan semua, eh rupanya berbeda. Rumah panggung disini, lantai dari papan-papan juga, tapi semua dindingnya dari bilik, anyaman bambu. Tidak ada tangga untuk masuk ke pintu utama tapi memang rumah disangga oleh beberapa kaki-kaki yang terbuat dari semen.

rumah kita

Ruri dan teman-teman menikmati dan merasa cukup nyaman di rumah yang baru ini. Perempuan yang mendominasi rumah membuat ruri berpikir, hmm bakal ricuh ga ya. Ternyata memang ricuh, tapi ricuh yang menyenangkan. Bahkan suasananya justru sangat akrab. Orang-orang yang menempati rumah ini ada santia, rifa, mayang, miska, dila, dwi,imew, randy, febri dan andrian. Karakter setiap kita berbeda-beda, dan inilah uniknya manusia.

Setiap orang di rumah ini punya ciri khas dan kebiasaannya sendiri, santia yang bawaannya tenang, rifa yang paling suka menebar senyum, mayang yang gokil, miska amat sangat ga suka liat tempat jorok, pokonya harus bersih terus, kalo ngomong suka blak-blakan, dila identik dengan cara bicara diikuti dengan mata yang berkedip berulang kali, dwi punya kebiasaan paling beda dengan yang lain, disebutin jangan yah, mmm.. ”panggilan alam” tiap pagi yang lebih sering dari yang lain, imew yang suka ngegaring, pabalatak alias jorok kalo nyimpen barang, Randy paling baik hati karena selalu siap sedia bantuin para perempuan, Febri paling cicingan alias pendiem, dan Andrian yang  punya rambut seperti giring Nidji. Jadilah kami seperti saudara yang saling membantu, mengingatkan dan menyemangati dalam setiap keadaan selama lima minggu.

Ada sebutan lain untuk setiap orang karena kebiasaannya. Berawal dari nama ruri di facebook yang bertuliskan ”ruri maniez”. Diomong-omongin terus, kaya diledekin gitu, jadi setiap manggil ruri jadinya manggil ”ruri maniez” (membaca maniez asli seperti tulisannya, m-a-n-i-e-z). Dikatain seperti anak SMA pula, disuruh ganti nama juga di facebook, “ya udah sih utlis aja ruri zurryatin”. Maka saat ini ku ganti jadi ruri zurryatin. J. Kemudian berlanjut dengan yang lain, kalau gitu santia jadi ”santia imoet”, rifa jadi ”rifa cute”, mayang karena hobi tidur jadi ”mayang sarex” (bahasa sunda, sare = tidur, ditambah X biar jadi gaya), miska jadi miska bawels, dila jadi dila uget, karena dia menamai gerakan tari india yang pernah kami tonton bareng dengan nama uget-uget, dwi dikasih nama dwi bokers, heu, jahat sih ngatain ini, tapi buat becandaan doang juga, walaupun dwinya kadang suka cemberut dikatain ini, (maaf ya Wi..) imew jadi imew garinks, randy giant, soalnya dia paling tinggi dan gede, tapi ga gendut, febri jadi febri cicing, andrian dengan rambut ”giring” itu alias brekele, jadi dipanggil brek, tapi brek ini memang sudah nama bawaannya sejak SMP.

Mereka adalah keluarga baru ruri, bukan berarti 10 lainnya tidak diakui, tapi berhubung ruri serumah dengan 10 orang diatas jadi mengenali dengan sangat karakter mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s