saatnya tuna rungu bicara*

Beberapa malam yang lalu, tepatnya malam sabtu. Sebelum tidur, seperti biasa, aku ndengerin radio dulu. Menunggu hingga rasa kantuk benar-benar full. Pindah dari satu channel ke channel yang lain, cari lagu yang enak, obrolan yang asyik, dan aku berhenti di satu channel radio anak muda, “d’funky-funky station”.. tadinya sih rada males gitu ndengernya tapi ko asa ada yang seru untuk didengar. Judul acaranya “bidadari” kalo g salah denger ya itu, kepanjangannya bicara dari hati sanubari.-maaf kalo salah-. Acara ini ada bintang tamunya gitu, dan malam itu sang bintang tamu adalah seorang anak tuna rungu. Subhanallah, luar biasa banget ni anak dan juga keluarganya. Keren abis! berbeda dari anak-anak tuna rungu yang biasanya agak sulit bicara, anak ini –tampak g enak didengar, dipanggil adek saja yah- adek ini bicaranya cukup lancar, nyaris seperti orang yang g tuna rungu. Nama adek tuna rungu ini Safa –maaf kalo salah nulis-.

Safa dinyatakan tuna rungu dari sejak lahir, saat umur berapa tahun gitu (saya lupa, heu) diperiksa oleh dokter dan divonis dia harus selalu menggunakan alat bantu dengar. Soalnya telinga kanannya itu (duh g ngerti juga maksudnya apa, yang ahli dalam bidang kedokteran tolong diralat) hanya bisa mendengar (kah?) 120 db dan telinga kiri 100 db. Jadi Safa g bisa mendengar apa-apa, piring jatuh dia g bisa ndenger, yang bisa dia dengar yaitu suara pesawat landing. Ow…!! jadi bersyukur atas nikmat pendengaran ini.

Ketika akan masuk TK, orang tua Safa berusaha mencari TK untuk anak-anak tuna rungu yang mengajarkan komunikasi secara oral. Oia, perlu diketahui bahwa orang tua Safa dan keluarga besarnya g suka kalo Safa berbicara dengan bahasa isyarat, mereka pengen Safa bisa bicara biasa. Saking inginnya Safa bisa bicara orangtuanya nyari sekolah TK ampe ke Jakarta. Bayanginlah baru TK aja, nyarinya udah mati-matian. Dan ketemulah TK yang mengajarkan dan membiasakan komunikasi oral tersebut di jakarta. Agar Safa bisa sekolah disitu sekeluarga pindah dari Bandung ke Jakarta. Usaha ayahnya yang tadinya udah mapan banget di Bandung harus mulai lagi dari NOL ketika pindah ke Jakarta! Wow lah kata aku. Tapi Safa hanya bertahan dua minggu saja sekolah disitu karena Ibu Safa g suka. Alasannya, Safa kembali lagi menggunakan bahasa isyarat, padahal tadinya udah mulai berbicara. Guru-guru di sekolah tersebut memang mengajak untuk berbicara oral tetapi teman-temannya tetap menggunakan bahasa isyarat jadi Safanya juga ikut terbawa. Kemudian Safa dipindahkan ke sekolah milik kak seto, nama Tknya, aah aku lupa -maaf-. Di sekolah ini, Safa sudah kembali berbicara oral, dan bicaranya pun cukup lancar. Demi, agar, sang anak bisa mendengar, ibu Safa melakukan banyak hal, salah satunya, ibu Safa membantingkan piring, gelas, dan apapun barang-barang yang ada disekitar supaya Safa bisa membedakan dan tau bahwa ini bunyi piring pecah, ini bunyi kaleng yang jatuh, hmmm… begitulah perjuangan ibu.

Beres TK, Safa melanjutkan sekolahnya ke sekolah umum. Meski sempat ditolak, tapi Safa bisa sekolah di SD umum. ibu Safa menjanjikan, kalau Safa tidak bisa mengikuti pelajaran Safa boleh dikeluarkan tapi jika bisa ya tetap bersekolah di SD tersebut. Dan ternyata Safa masuk 10 besar! Jadi Safa tetap sekolah disitu. Sekarang Safa sudah kelas 2 SMA. Safa juga bisa main drum loh! Bisa berenang juga, padahalkan cukup sulit untuk melatihnya. Saat berenang alat bantu dengarnya harus dilepas sedangkan intruksi dari pelatih tidak bisa didengar. Dan satu-satunya cara, sang pelatih harus memberikan langsung gerakan apa dan bagaimana yang harus dilakukan. Salut juga buat pelatihnya. Cerita tentang Safa ini udah dibukukan ama sepupunya, Bang Emon Esia -maaf kalo salah nulis nama- true story gitu judulnya ”Safa, saatnya tuna rungu bicara”.

Sambil mendengar obrolan dengan Safa ini, aku jadi merenung. Banyak hal yang harus dan bisa disyukuri. Safa, punya tekad yang kuat ampe dia bisa ngomong lancar seperti orang-orang biasa. Itu pasti karena dia yakinkan?!. Jadi harus yakin dalam melakukan sesuatu yang benar. Pengorbanan keluarganya yang subhanallah luar biasa demi anak tersayang. Hmmm kalau aku jadi orang tua dengan keadaan seperti ini, belum tentu sanggup. Tapi bukannya kalo Dia ngasih ke kita itu karena kita sanggup yah?? Pengorbanan akan selalu ada untuk orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita. Saat SD, Safa juga pernah diejek oleh teman-temannya, biasalah ya anak kecil. G bisa liat yang diluar dari kebiasaannya pasti akan diomongkan (orang gede juga bukan, gosip?? Hoo sama g yah). Tapi Safa menghadapi itu dengan tegar. Malah sangat dewasa untuk anak sekecil dia saat itu. Sampai ibunya aja nangis.

Inilah cerita obrolan yang masih terekam di memoriku. Mungkin g semua yang ku dengar saat itu tersampaikan, tapi yang ingin disampaikan adalah semangat dalam menjalani hidup, slalu optimis. Semoga kita bisa memberikan yang terbaik untuk hidup kita.

Semangat terus teman, an tularkan rasa optimismu! (ca…:) )

*judul buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s